Klise » Featured, Info

Lahirnya I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional)

17 August 2009 2,073 views Tidak ada komentar


Simposium Internasional 3-5 Juli 2009 di Den Haag, Belanda yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia se-dunia (PPI Dunia) berhasil melahirkan satu jejaring penting intelektual Indonesia luar negeri dengan nama Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4)
Lahirnya I-4 ini dipertegas kembali pada acara Press Conference Post Event Simposium International 2009 di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas (11/08). Menghadirkan beberapa pembicara, yaitu bapak Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi; Bapak Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina; Bapak Yohanes Surya selaku pembina TOFI; Bapak Agusman Efendi, dari Dewan Energi Nasional.

Di tengah kesibukan beliau, bapak Dino Pati Djalal, menyempatkan diri untuk memberikan closing remarks yang sangat menginspirasi.

Pada event ini juga dilakukan interaktif video conference dari perwakilan PPI benua-benua. Termasuk audio conference dengan Radio PPI Dunia yang mengudara selama 24 jam.

“150 ribu dosen+4,5 juta mahasiswa Indonesia dalam negeri+40 ribu mahasiswa dan 1000 ilmuwan Indonesia yang belajar dan bertugas di luar negeri akan menjadi jejaring dan kekuatan luar biasa untuk membangun bangsa dan negara ini” kata Dirjen Dikti.

Mereka akan saling menjemput. Dari luar negeri ke dalam negeri dan dari dalam negeri ke luar negeri. Banyak inovasi dan kreativitas yang bisa dilakukan tambah bapak Dirjen. Bapak Anis Baswedan menyebutnya sebagai clearing house. Tempat terjadinya tukar menukar personalia dan pemikiran.

”Kalau jejaring ini bekerja. Tidak akan ada pengangguran terdidik. Tidak ada hari dihabiskan untuk mengeluh, saling menyalahkan dan mencurigai. Melalui ini Indonesia akan menuju masyarakat yang memiliki kapital sosial yang kuat, high trust society”, optimis bapak Dirjen.

Kita, kata bapak Dino Pati Djalal, jangan hanya berhenti hanya melihat Indonesia dalam World Map, tapi juga global map. World map bukanlah prestasi, tapi sudah ada sedari dulunya. Lihat bagaimana posisi Indonesia dalam Global Competetivenes Indeks, World Competetiviness Year Book, Network Readiness Indeks dsb. Dimana posisi Indonesia.

Dunia terus mengalami perubahan terus menerus, kata bapak Dino. Perubahan bisa dilakukan dalam satu generasi. Banyak negara telah membuktikan itu. Dalam konteks itu, Indonesia memiliki identitas internasional yang memiliki daya tawar sangat kuat. Indonesia adalah negara demokrasi dunia terbesar ketiga setelah India dan Amerika. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia yang “mensintesakan antara Demokrasi, modernisasi dan keislaman. Serta menjadi jembatan Islam dan Barat. Indonesia adalah termasuk jajaran negara enveronmental super power.

I-4 adalah salah satu strategic opportunity penting yang perlu didukung untuk mengembangkan identitas internasional serta daya saing bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz