Klise » Film

Sinematek Indonesia (Misbach Yusa Biran, Museum Kita, dan Media Sosial)

17 November 2011 1,477 views Tidak ada komentar


“Saya seharusnya bangga menerima penghargaan ini. Tapi  di satu sisi saya malu karena institusi yang saya rintis, Sinematek Indonesia, mau mampus”. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Misbach Yusa Biran, perintis dan pendiri Sinematek Indonesia (SI) yang pada 3 Agustus 2010 menerima penghargaan dari Asosiasi Arsip Audiovisual Asia-Pasifik (SEAPAVAA) di Bangkok. Selain Misbach, ada Ray Edmondson, perintis  National Film and Sound Archive Australia dan SEAPAVAA),  James Lindner (ahli media dan komunikasi asal Amerika Serikat), dan Hisashi Okajima (Presiden International Federation of Film Archives/FIAF).

“Saya malu dan bertanya, mengapa saya mendapatkan penghargaan ini . Karena Sinematek sudah tidak berguna lagi, dan sebelumnya saya juga dapat penghargaan Pencapaian Seumur Hidup tahun 1997”, ungkap Misbach, yang 11 September lalu berusia 77 tahun. Begitu banyak pakar dan ahli asing yang menaruh hormat pada pendiri institusi arsip film pertama di Asia Tenggara itu.

SI tentu saja sangat berguna. Salim Said, dalam kesempatan itu, menyatakan bahwa dirinya adalah pengguna pertama museum film itu. Salim adalah sedikit dari ratusan,mungkin ribuan orang, yang berterimakasih kepada SI. Namun, memang, kondisi SI memprihatinkan, dan masih banyak yang tidak ngeh eksistensinya. Padahal inilah perintis kearsipan di Asia Tenggara yang pada 20 Oktober lagi berusia 35 tahun.

Ketidakpedulian pada kearsipan tidak hanya di masa ini. Misbach bercerita, kala itu awal 1970an, ia hendak mendirikan SI dan mewawancarai satu-satunya saksi sejarah yang turut membuat film di masa Jepang, Tan Tjoei Hock, dia malah dimarahi.”Untuk apa kamu bikin kearsipan itu?Tidak berguna!”.

SI adalah semacam museum film. Situs resmi Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata mengutip  hasil musyawarah umum ke-11 International Council of Museum (ICOM) pada 14 Juni 1974 di Denmark,yang menyatakan 9 fungsi museum: (1) Pengumpulan dan pengamanan warisan alam dan budaya, (2) Dokumentasi dan penelitian ilmiah, (3) Konservasi dan preservasi, (4) Penyebaran dan pemerataan ilmu untuk umum, (5) Pengenalan dan penghayatan kesenian, (6) Pengenalan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa, (7) Visualisasi warisan alam dan budaya, (8) Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia, dan (9) Pembangkit rasa takwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dan SI mencakup itu semua. Museum juga berfungsi sebagai mesin waktu yang bercerita tentang kisah diri sendiri dan orang lain. Ia adalah pengumpul memori kolektif, juga kenangan cultural.  Bangsa kita sedang mengidap Amnesia Akut, gejala yang disitir oleh Andreas Huyssen, dalam Twilight Memories, Making Time in a Culture of Amnesia (Routledge, 1995). Padahal, pengarsipan sangat penting, bukan bagi masa lampau itu sendiri, tapi justru—seperti yang ditekankan Jacques Derrida dalam Archive Fever (University Of Chicago Press, 1998)—untuk masa depan. Bahkan Derrida menyebut istilah “messianicity” sebagai fungsi arsip.

Nah, sekarang mari kita tengok fungsi Museum yang ada. Bekas rumah pembuangan Bung Karno di Bengkulu? Museum Bahari Jakarta?Adakah mereka membuat program?Kalau pun ada, apakah bergema di masyarakat luas?

Banyak orang, kalau sudah berkumpul dengan kawan seangkatan, selalu berbicara tentang “kejayaan” masa lalu, dan biasanya berkenaan dengan budaya pop, mulai film, musik, acara televisi, makanan, hingga fesyen dan gaya hidup. Karena macetnya fungsi museum inilah, kemudian media baru,( tepatnya: media sosial) mendapatkan perannya.  Ambil satu saja: Youtube. Di sana, kita bisa melihat banyak hal. Untuk angkatan 1980an, kita bisa melihat cuplikan Si Unyil,  Selecta Pop, Aneka Ria Safari, serial silat Legend of Condor Heroes, animasi robot Voltus V, musik “pop cengeng” ala Betharia Sonata, atau pertandingan badminton yang dikomentari Sambas. Bahkan lebih dari itu, kita bisa mengakses film propaganda Jepang di Indonesia hingga klip The Tielman Brothers di awal 1960an.

Vintage atau old school sudah menjadi tren.  Bahkan ada film atau lagu yang memakai warna 1960an, 1970an, atau 1980an. Sebut saja Quickie Express, White Shoes and Couples Company, dan Naif. Dan, selain materi langsung (kaset, piringan hitam, video Betamax, baik cari sendiri atau lewat pengoleksi),  generasi sekarang banyak dibantu oleh Youtube untuk mengaksesnya.

Tapi, bagaimana pun, artefak budaya pop, dengan materi yang bisa diakses langsung, haruslah tetap ada, dengan program yang bagus. Harus ada museum music, museum media, museum televisi, dan museum budaya pop pada umumnya. Hal ini penting tidak hanya untuk menjaga memori kolektif, tapi juga pengembangan ilmu pengehuan seperti sejarah dan arkeologi media.

Tapi, siapa yang mulai? Haruskah orang luar lagi yang peduli?

(SUMBER: http://ekkyij.multiply.com/journal/item/191/35_Tahun_Sinematek_IndonesiaMisbach_Yusa_Biran_Museum_Kita_dan_Media_Sosial)

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz